“Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.” (Pengkhotbah 7:29)
Pembahasan: Pengkhotbah 7:23-29 | Ayat Bacaan: Pengkhotbah 7
Dalam hidup ini, banyak orang yakin bahwa semakin banyak pengetahuan, semakin banyak yang dimengerti. Kita mencari pengalaman, belajar lebih keras, dan sebagainya. Namun, semakin kita memahami dunia, semakin kita sadar bahwa ada banyak hal yang tidak dapat dikendalikan, tidak dapat dijelaskan, dan bahkan mengagetkan kita. Pengkhotbah—orang paling berhikmat pada zamannya—mengalami hal yang sama.
Pengkhotbah telah memiliki hikmat, tetapi ia terus mencari hikmat, seolah-olah tidak pernah puas. Dengan segala hikmat yang ia miliki, ia pun terus melakukan segala upaya untuk mencari, namun ia mendapati bahwa hikmat ternyata jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan. Ada banyak misteri yang tidak dapat ia pahami (ay. 23-24). Yang menarik, meskipun ia telah melakukan berbagai upaya (ay. 27-28), pada akhirnya yang ia temukan justru sesuatu yang sangat mengecewakan, yaitu dosa (ay. 26-29). Pengkhotbah menyebutkan ada tiga hal yang ia temukan: Pertama, bahaya dosa hawa nafsu dan seksualitas. Dosa ini disebutkan lebih pahit—bahkan lebih mengerikan—daripada maut. Tidak seorang pun sanggup melepaskan diri darinya, kecuali oleh anugerah Allah yang memelihara (ay. 26). Kedua, kelangkaan orang benar, yaitu mereka yang hidup berintegritas dan takut akan Allah. Pengkhotbah menggambarkan: “hanya satu laki-laki di antara seribu, dan di antara perempuan tidak ada” (ay. 27-28). Ini bukan hinaan gender, melainkan bentuk hiperbola Ibrani (pernyataan kontras). Dalam bahasa saat ini, “manusia yang benar itu sangat langka—nyaris tidak ada” (bdk. Mzm. 14:2-3; Rm. 3:10). Ketiga, akar kejahatan manusia. Pada dasarnya manusia diciptakan lurus, tetapi kemudian mencari banyak alasan, dan memilih jalan yang menyimpang dari kehendak Tuhan (ay. 29)
Pada awalnya, Pengkhotbah ingin memahami hidup dengan tuntas, tetapi akhirnya mendapati bahwa hikmat manusia selalu terbatas, dan pencariannya justru membuka kenyataan pahit tentang manusia dan dunia ini. Kebenaran ini mengingatkan kita bahwa sebijaksana apapun manusia, sekeras apapun usaha kita, sebagai ciptaan Allah, kita tetaplah terbatas. Pada akhirnya, mau tidak mau harus kita akui bahwa semakin kita merasa berhikmat, semakin banyak hal ada di luar batas kendali dan pemahaman kita. Karena itu, yang harus kita lakukan adalah merendahkan hati, mengakui keagungan Tuhan, belajar hidup takut akan Allah, dengan bersandar kepada Allah, bukan hikmat dan kekuatan sendiri.
STUDI PRIBADI: Mengapa firman Tuhan menekankan untuk mengandalkan Tuhan, bukan kemampuan sendiri? Apa yang paling penting dalam menjalani hidup yang sementara ini?
Pokok Doa: Berdoalah agar setiap anak Tuhan hidup mengandalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri. Berdoa bagi para pemimpin bangsa agar dipimpin Tuhan dalam menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab mereka.
Pengkhotbah 7:23-29
Pengejaran hikmat yang mengecewakan
23 Kesemuanya ini telah kuuji untuk mencapai hikmat. Kataku: "Aku hendak memperoleh hikmat," tetapi hikmat itu jauh dari padaku.
24 Apa yang ada, itu jauh dan dalam, sangat dalam, siapa yang dapat menemukannya?
25 Aku tujukan perhatianku untuk memahami, menyelidiki, dan mencari hikmat dan kesimpulan, serta untuk mengetahui bahwa kefasikan itu kebodohan dan kebebalan itu kegilaan.
26 Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya.
27 Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhotbah: Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan,
28 yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuan di antara mereka.
29 Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.
Pengkhotbah 7
Hikmat yang benar
1 Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.
2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
3 Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.
4 Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.
5 Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh.
6 Karena seperti bunyi duri terbakar di bawah kuali, demikian tertawa orang bodoh. Inipun sia-sia.
7 Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati.
8 Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.
9 Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.
10 Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.
11 Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.
12 Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya.
13 Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya?
14 Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.
15 Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya.
16 Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri?
17 Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?
18 Adalah baik kalau engkau memegang yang satu, dan juga tidak melepaskan yang lain, karena orang yang takut akan Allah luput dari kedua-duanya.
19 Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan dari pada sepuluh penguasa dalam kota.
20 Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!
21 Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau.
22 Karena hatimu tahu bahwa engkau juga telah kerapkali mengutuki orang-orang lain.
Pengejaran hikmat yang mengecewakan
23 Kesemuanya ini telah kuuji untuk mencapai hikmat. Kataku: "Aku hendak memperoleh hikmat," tetapi hikmat itu jauh dari padaku.
24 Apa yang ada, itu jauh dan dalam, sangat dalam, siapa yang dapat menemukannya?
25 Aku tujukan perhatianku untuk memahami, menyelidiki, dan mencari hikmat dan kesimpulan, serta untuk mengetahui bahwa kefasikan itu kebodohan dan kebebalan itu kegilaan.
26 Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya.
27 Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhotbah: Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan,
28 yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuan di antara mereka.
29 Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.
Pengkhotbah 7:23-24
23 Kesemuanya ini telah kuuji untuk mencapai hikmat. Kataku: "Aku hendak memperoleh hikmat," tetapi hikmat itu jauh dari padaku.
24 Apa yang ada, itu jauh dan dalam, sangat dalam, siapa yang dapat menemukannya?
Pengkhotbah 7:27-28
27 Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhotbah: Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan,
28 yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuan di antara mereka.
Pengkhotbah 7:26-29
26 Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya.
27 Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhotbah: Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan,
28 yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuan di antara mereka.
29 Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.
Pengkhotbah 7:26
26 Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya.
Mazmur 14:2-3
2 TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.
3 Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.
Roma 3:10
10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Pengkotbah 7:29
29 Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.
Roma 8:21, 23b
21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
23b tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
Mazmur 41:5
4 (41-5) Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!"
Matius 5:7
7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Matius 11:28
28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
1 Petrus 5:7
7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.


