Cara Merespon Orang Babel

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.” (Amsal 26:4)



Pembahasan: Amsal 26:1-28 | Ayat Bacaan: Amsal 26-27

Pernahkah Anda merasa kesal dan terbawa emosi ketika merespons perkataan atau sikap orang lain? Apalagi jika orang itu termasuk orang “bebal.” Orang bebal artinya orang yang sukar mengerti, tidak cepat tanggap, bodoh, dan enggan menerima nasihat atau kebenaran meskipun sudah mengetahuinya; sering kali bersikeras pada pikirannya sendiri, sulit diajar, bahkan bisa terasa seperti berbicara dengan tembok.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, penulis Amsal memberikan nasihat agar kita, “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia” (Ams. 26:4). Namun, pernyataan selanjutnya, pada ayat 5, tampak kontradiktif, sebab penulis Amsal berkata, “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.” Lalu, sebenarnya, boleh atau tidak menjawab orang bebal menurut kebodohannya? Jika Anda berpikir bahwa kedua ayat ini berkontradiksi, maka Anda perlu memahami konteks dan maksud masing-masing ayat tersebut.

Dalam ayat 4, penulis Amsal mengingatkan kita, “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya.” Maksudnya, jangan kita menjawab orang bebal dengan cara yang sama seperti mereka—misalnya mengikuti logikanya yang sesat, terbawa emosi, atau ikut berkata kasar. Sebaliknya, ayat 5 berbunyi: “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya.” Ini berarti “menguliti kebodohannya,” atau menyingkapkan kebodohannya agar terbongkar, sehingga ia sadar akan kesalahannya, tidak merasa paling benar, menipu orang lain, atau semakin sombong.

Jadi, penulis Amsal mengingatkan kita bahwa cara merespons orang bebal bukanlah dengan mengikuti cara berpikirnya, emosinya, atau keburukannya, sehingga kita menjadi sama seperti dia. Sebaliknya, respons yang tepat adalah dengan menyingkapkan kebenaran dan menyampaikannya sesuai kebodohannya, sehingga ia tidak sombong, sadar akan kesalahannya, dan pikirannya yang sesat tersingkap. Oleh karena itu, bijaklah dalam merespons orang bebal.

STUDI PRIBADI: Bagaimana seharusnya kita merespons orang yang bebal? Pernahkah Anda berhadapan dengan orang bebal dan bagaimana hasil pengalaman Anda?

Pokok Doa: Berdoa dan mintalah kepada Tuhan hikmat dan kapasitas dalam berkomunikasi atau merespons sikap orang “bebal.” Mintalah tuntunan-Nya agar Anda dimampukan menuntun mereka kepada jalan yang benar.

Sharing Is Caring:

×

Amsal 26:1-28

1 Seperti salju di musim panas dan hujan pada waktu panen, demikian kehormatanpun tidak layak bagi orang bebal.

2 Seperti burung pipit mengirap dan burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan kena.

3 Cemeti adalah untuk kuda, kekang untuk keledai, dan pentung untuk punggung orang bebal.

4 Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.

5 Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.

6 Siapa mengirim pesan dengan perantaraan orang bebal mematahkan kakinya sendiri dan meminum kecelakaan.

7 Amsal di mulut orang bebal adalah seperti kaki yang terkulai dari pada orang yang lumpuh.

8 Seperti orang menaruh batu di umban, demikianlah orang yang memberi hormat kepada orang bebal.

9 Amsal di mulut orang bebal adalah seperti duri yang menusuk tangan pemabuk.

10 Siapa mempekerjakan orang bebal dan orang-orang yang lewat adalah seperti pemanah yang melukai tiap orang.

11 Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.

12 Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.

13 Berkatalah si pemalas: "Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!"

14 Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.

15 Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya.

16 Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana.

17 Orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu.

18 Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut,

19 demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: "Aku hanya bersenda gurau."

20 Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.

21 Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan.

22 Seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati.

23 Seperti pecahan periuk bersalutkan perak, demikianlah bibir manis dengan hati jahat.

24 Si pembenci berpura-pura dengan bibirnya, tetapi dalam hati dikandungnya tipu daya.

25 Kalau ia ramah, janganlah percaya padanya, karena tujuh kekejian ada dalam hatinya.

26 Walaupun kebenciannya diselubungi tipu daya, kejahatannya akan nyata dalam jemaah.

27 Siapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan siapa menggelindingkan batu, batu itu akan kembali menimpa dia.

28 Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran.

×

Amsal 27

1 Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.

2 Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.

3 Batu adalah berat dan pasirpun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh.

4 Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu?

5 Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.

6 Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.

7 Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis.

8 Seperti burung yang lari dari sarangnya demikianlah orang yang lari dari kediamannya.

9 Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa.

10 Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh.

11 Anakku, hendaklah engkau bijak, sukakanlah hatiku, supaya aku dapat menjawab orang yang mencela aku.

12 Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

13 Ambillah pakaian orang yang menanggung orang lain, dan tahanlah dia sebagai sandera ganti orang asing.

14 Siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya.

15 Seorang isteri yang suka bertengkar serupa dengan tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu hujan.

16 Siapa menahannya menahan angin, dan tangan kanannya menggenggam minyak.

17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

18 Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa menjaga tuannya akan dihormati.

19 Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.

20 Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.

21 Kui untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, dan orang dinilai menurut pujian yang diberikan kepadanya.

22 Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebodohannya tidak akan lenyap dari padanya.

23 Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu.

24 Karena harta benda tidaklah abadi. Apakah mahkota tetap turun-temurun?

25 Kalau rumput menghilang dan tunas muda nampak, dan rumput gunung dikumpulkan,

26 maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk pembeli ladang,

27 pula cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, dan untuk penghidupan pelayan-pelayanmu perempuan.

×

Amsal 26:4

4 Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.

×

Amsal 26:5

5 Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.

×

Amsal 24:10

10 Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

×

Amsal 24:11-12

11 Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan.

12 Kalau engkau berkata: "Sungguh, kami tidak tahu hal itu!" Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?

×

Amsal 24:17-18

17 Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok,

18 supaya TUHAN tidak melihatnya dan menganggapnya jahat, lalu memalingkan murkanya dari pada orang itu.

×

Amsal 24:19-20

19 Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik.

20 Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam.

×

Amsal 24:30-34

30 Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi.

31 Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.

32 Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.

33 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,"

34 maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

×

Roma 8:21, 23b

21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

23b tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

×

Mazmur 41:5

4 (41-5) Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!"

×

Matius 5:7

7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

×

Matius 11:28

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

×

1 Petrus 5:7

7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *