Pengejaran Yang Sia-sia

Bacaan hari ini: Pengkhotbah 1:1-18 Bacaan setahun: Bilangan 15-16, Lukas 14


“Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal ini pun adalah usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 1:17)

Pengejaran Yang Sia-sia-min

Apakah yang dikejar oleh manusia selama hidupnya di dalam dunia? Kecenderungan manusia mengejar harta, kedudukan, nama baik, pengetahuan dan lainnya merupakan pengejaran yang bersifat duniawi. Pengkhotbah memang tidak melarang pengejaran akan semuanya itu, namun pengalaman pengkhotbah sebagai orang yang berhikmat sekalipun – bila hanya mengejar semua hal-hal duniawi semata-mata dapat dikatakan sebagai “usaha untuk menjaring angin.”

“Usaha menjaring angin” adalah istilah yang dipakai oleh pengkhotbah untuk menggambarkan tentang kesia-siaan yang ada di dalam dunia ini. Pertanyaannya, mengapa segala hal yang ada di dalam dunia (= di bawah matahari) itu dapat dikategorikan adalah usaha untuk menjaring angin? Karena semua pengejaran yang dilakukan di bawah matahari tidak akan menambah nilai kekekalan di dalam hidup. Justru pengejaran akan harta, kedudukan, nama baik, pengetahuan dan lainnya justru membuat kita jatuh ke dalam hawa nafsu duniawi. Oleh sebab itu, peringatan pengkhotbah ini patut diperhatikan dan direnungkan.

Hal terpenting bagi kita yang hidup di dalam dunia adalah “bagaimana kehidupan yang kita jalani di dalam dunia ini dapat menuntun kita kepada kekekalan. Ingat, bahwa apa yang ada di dalam dunia ini semuanya akan lenyap. Tidak ada satupun hal di dalam dunia ini yang mampu memberikan kekekalan kepada manusia. Kekekalan hanya diperoleh dengan “iman”, yaitu percaya kepada Yesus Kristus, satu-satunya Juru selamat hidup kita. Tanpa iman yang benar, maka tidak mungkin kita bisa mencapai kekekalan. Efesus 2:8-9 menuliskan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Kisah Para Rasul 4:12 menuliskan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

STUDI PRIBADI:
(1) Apakah yang dikejar manusia di bawah kolong langit? Apakah dengan mengejar semua itu, manusia dapat mencapai kekekalan?
(2) Berkat rohani apa yang Anda dapatkan dari bagian firman Tuhan hari ini?

Pokok Doa: Berdoalah bagi jemaat Tuhan agar mereka memiliki iman yang kokoh dan tidak mudah digoyahkan saat hidup di dalam dunia ini, dengan segala godaan dan tantangannya, Amin.

Pertama, dia mengasihi suaminya dan tidak berbuat apa yang jahat sehingga suaminya begitu percaya kepadanya. Dia memperhatikan dan menyediakan apa yang menjadi kebutuhan rumah tangganya. Dia rela bangun dini hari untuk menyediakan makanan untuk seisi rumahnya. Walaupun ada para pelayan yang membantu, dialah yang mengatur tugas-tugas mereka untuk kelancaran rumah tangganya. Dia bisa memberi diri untuk bekerja menopang kebutuhan rumah tangganya jika diperlukan. Tidak hanya memikirkan rumah tangganya, istri yang cakap juga memperhatikan sesamanya. Dikatakan ia memberikan tangannya untuk menolong yang tertindas dan mengulurkan tangan membantu yang miskin. Karena segala perhatian akan rumah tangganya ini maka seisi rumahnya tidak kuatir dalam menjalani hidup mereka. Apakah upah bagi dia? Seisi rumahnya memuji dan mengasihi dia, anak-anaknya menghormatinya dan suaminya memujinya.

Firman Tuhan menyatakan bahwa semuanya itu didasari atas satu hal dalam hidup sang istri tersebut, yaitu dia adalah istri yang takut akan Tuhan, yang hidupnya bukan sekadar mengejar kemolekan dan kecantikan fisik. Istri yang cakap adalah istri yang takut akan Tuhan, yang ditunjukkan dengan melakukan apa yang Tuhan inginkan yang terwujud dalam tingkah laku dan kasihnya di tengah-tengah keluarganya. Firman Tuhan ini mengingatkan beberapa hal berkaitan dengan istri. Seperti dalam Efesus 5:22 yang mengatakan agar istri untuk tunduk pada suaminya, seperti yang ditunjukkan oleh Amsal ini. Dalam 1 Petrus 3:1-6 dinyatakan bahwa kesalehan hidup istri akan menjadi kesaksian yang baik bagi suami dan rumah tangganya. Wanita seperti ini adalah istri yang menaruh pengharapannya pada Allah dan tunduk pada suaminya.

STUDI PRIBADI: Apakah yang menjadi dasar hidup seorang istri yang cakap? 

Pokok Doa: Berdoa bagi jemaat Tuhan, terutama para istri, agar ditolong oleh Tuhan untuk hidup takut akan Tuhan dan dapat menjadi istri yang cakap mendampingi suami dan keluarganya.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *