Berkata Bukan Sekadar Bicara

“Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.” (Amsal 18:4)



Pembahasan: Amsal 18:1-24 | Ayat Bacaan: Amsal 18-19

Dalam budaya kita, kita sering mendengar pernyataan, “kata-kata kita mencerminkan siapa kita.” Karena itu, sejak kecil kita diajarkan untuk menjaga ucapan, menghormati yang lebih tua, dan berbicara dengan mempertimbangkan perasaan orang lain. Namun, seiring perkembangan zaman, orang semakin mudah berbicara tanpa pertimbangan, berkomentar di media sosial, dan bahkan bereaksi secara emosional. Hari ini, Firman Tuhan mengingatkan bahwa berkata bukan sekadar berbicara.

Amsal 18:4 memakai gambaran air yang dalam dan sungai yang meluap. Dalam dunia Alkitab, air bukan sekadar kebutuhan, tetapi sumber kehidupan. Air yang dangkal mudah keruh, mudah kering. Sebaliknya, air yang dalam bersifat tenang, jernih, dan menopang kehidupan di sekitarnya. Demikian pula dengan perkataan kita. Perkataan yang disampaikan dengan penuh pertimbangan memiliki pengaruh yang baik, bahkan dapat membawa perubahan. Karena itu, kita perlu menyadari bahwa tidak semua yang keluar dari mulut adalah perkataan yang bermakna. Ada kata-kata yang lahir dari emosi sesaat, tetapi ada pula yang lahir dari hikmat Tuhan yang sudah diendapkan di dalam hati.

Perkataan yang sejati bukan ditentukan oleh seberapa banyak kita berbicara, melainkan seberapa dalam hikmat Tuhan mengalir di dalam diri kita. Yakobus 3:17 menjelaskan kualifikasi hikmat dari Tuhan—yang disebut sebagai hikmat dari atas—yakni murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak, serta tidak munafik. Perkataan yang lahir dari hikmat Tuhan, bersifat murni, bukan manipulatif; pendamai, bukan memecah-belah; peramah, bukan kasar; serta penuh belas kasihan, bukan menghakimi. Ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, membaca Firman-Nya, dan membiarkan Roh Kudus membentuk hati kita, maka kata-kata yang keluar dari mulut kita akan mengalir dengan tenang, mengarahkan kehidupan, dan menjadi berkat. Karena itu, mari kita belajar berkata-kata di bawah pimpinan hikmat Tuhan, sehingga setiap perkataan yang kita ucapkan memuliakan Tuhan dan menguatkan sesama.

STUDI PRIBADI: Apakah ada situasi yang seringkali memicu kita untuk menjadi emosi dan bicara tanpa pertimbangan? Bagaimanadapat berkata dalam tuntunanhikmat Tuhan?

Pokok Doa: Doakan agar setiap kita dapat berkomunikasi dengan jelas dan dilandasi motivasi saling menguatkan dalam iman kepada Kristus.

Sharing Is Caring:

×

Amsal 18:1-24

1 Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.

2 Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.

3 Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh.

4 Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.

5 Tidak baik berpihak kepada orang fasik dengan menolak orang benar dalam pengadilan.

6 Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.

7 Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

8 Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.

9 Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.

10 Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.

11 Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.

12 Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

13 Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

14 Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?

15 Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.

16 Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar.

17 Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya.

18 Undian mengakhiri pertengkaran, dan menyelesaikan persoalan antara orang-orang berkuasa.

19 Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.

20 Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.

21 Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

22 Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN.

23 Orang miskin berbicara dengan memohon-mohon, tetapi orang kaya menjawab dengan kasar.

24 Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

×

Amsal 19

1 Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal.

2 Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

3 Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.

4 Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.

5 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.

6 Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi.

7 Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.

8 Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan.

9 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.

10 Kemewahan tidak layak bagi orang bebal, apalagi bagi seorang budak memerintah pembesar.

11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.

12 Kemarahan raja adalah seperti raung singa muda, tetapi kebaikannya seperti embun yang turun ke atas rumput.

13 Anak bebal adalah bencana bagi ayahnya, dan pertengkaran seorang isteri adalah seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik.

14 Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.

15 Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar.

16 Siapa berpegang pada perintah, memelihara nyawanya, tetapi siapa menghina firman, akan mati.

17 Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

18 Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.

19 Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.

20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.

21 Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

22 Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.

23 Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.

24 Si pemalas mencelup tangannya ke dalam pinggan, tetapi tidak juga mengembalikannya ke mulut.

25 Jikalau si pencemooh kaupukul, barulah orang yang tak berpengalaman menjadi bijak, jikalau orang yang berpengertian ditegur, ia menjadi insaf.

26 Anak yang menganiaya ayahnya atau mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri.

27 Hai anakku, jangan lagi mendengarkan didikan, kalau engkau menyimpang juga dari perkataan-perkataan yang memberi pengetahuan.

28 Saksi yang tidak berguna mencemoohkan hukum dan mulut orang fasik menelan dusta.

29 Hukuman bagi si pencemooh tersedia dan pukulan bagi punggung orang bebal.

×

Amsal 18:4

4 Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.

×

Yakobus 3:17

17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

×

Mazmur 141:3

3 Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!

×

Amsal 3:7-8

7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;

8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

×

Amsal 3:21-25

21 Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,

22 maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.

23 Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.

24 Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.

25 Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.

×

Roma 6:11

11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

×

Roma 8:22-23

22 Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?"

23 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.

×

Roma 8:21, 23b

21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

23b tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

×

Mazmur 41:5

4 (41-5) Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!"

×

Matius 5:7

7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

×

Matius 11:28

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

×

1 Petrus 5:7

7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *